Beranda Kesehatan Pokja Wash Metro Timur Wujudkan PHBS Indikator Peningkatan Akses Sanitasi

Pokja Wash Metro Timur Wujudkan PHBS Indikator Peningkatan Akses Sanitasi

409
BERBAGI

Foto : Diskusi Pokja Wash Metro Timur pembahasan tentang peningkatan akses sanitasi di Fasyankes.


Time7Newss.com, Kota Metro.

Pokja Wash Metro Timur mengadakan diskusi santai Ngopi Bersama Wash membahas tentang Indikator Pelayanan Air, Sanitasi dan Kebersihan di Puskesmas, Sesi diskusi tersebut berlangsung di Warunk Viral 16 C, jalan Soekarno Hatta, Rabu (1/12/2021).

Diskusi bersama anggota Pokja Wash Metro Timur membahas indikator Wash pelayanan kesehatan yang layak.

Fasilitator Pokja Wash Metro Timur, Ahmad Haryono mengawali diskusi dengan menyampaikan ucapan terimakasih kepada anggota Wash yang konsisten dalam mengedukasi tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yaitu satu diantaranya Indikator Pelayanan Air, Sanitasi dan Kebersihan dipusat pelayanan kesehatan.

Terimakasih kepada rekan-rekan anggota Pokja Wash berkesempatan hadir dan konsisten dalam rangka dukungan dan mengedukasi serta meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dan lingkungan sekitar anggota Pokja,” ucapnya.

Pokja Wash Metro Timur diskusi peningkatan akses sanitasi

Selanjutnya, Pemaparan Diskusi program Wash in HCF di Fasyankes disampaikan oleh Yulian Gressindo yang juga sebagai Timtek Wali kota Metro, ia menjelaskan tentang advokasi air yang ditujukan kategori kualitas air sesuai kebutuhan, indikator peningkatan akses sanitasi, indikator peningkatan akses cuci tangan pakai sabun dalam standard kualitas kehidupan sehari-hari dalam rangka mewujudkan visi Kota Metro sebagai Kota Berpendidikan Sehat Sejahtera dan Berbudaya.

Pemaparan kali ini membahas tentang beberapa Indikator Wash yang sesuai Wash Fit, hal ini menjadi tugas Pokja Wash memberikan pemahaman dan edukasi dalam hal manfaat peningkatan akses air, indikator peningkatan akses sanitasi, indikator peningkatan akses cuci tangan pakai sabun,” jelas Yulian.

Lebih lanjut, Yulian mengungkapkan tentang Indikator peningkatan akses sanitasi pada sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan dipuskesmas.

Indikator peningkatan akses sanitasi yaitu memiliki toilet atau jamban yang layak, selanjutnya disebut (toilet) untuk pasien yang berfungsi baik, Fasilitas memiliki jumlah toilet yang cukup dan dapat digunakan untuk pasien, Semua toilet memiliki stasiun cuci tangan yang berfungsi dalam jarak 5 meter. Toilet dipisahkan dengan jelas untuk staf dan pasien dengan diberi tanda,” paparnya.

Yulian Gressindo fasilitator Pokja Wash Metro Timur memaparkan tentang advokasi air dan fasilitas akses sanitasi

Masih diungkapkan Yulian, Toilet dipisahkan dengan jelas untuk pria dan wanita atau memberikan privasi.

Setidaknya satu toilet fungsional menyediakan sarana untuk mengatur kebutuhan manajemen kebersihan menstruasi (MKM), Selain itu, Fungsional memenuhi kebutuhan orang-orang dengan mobilitas terbatas dan tersedianya penampungan dan pengolahan limbah cair serta toilet terhubung tanpa kebocoran ke sistem saluran pembuangan atau IPAL, Kotoran dan air limbah dari toilet dialirkan dan diolah ke tangki septik kedap,” jelasnya.

Yulian memaparkan bagaimana Instalasi pengolahan dirancang untuk menyediakan setidaknya pengolahan sekunder dan bekerja sesuai standar kinerja.

Instalasi pengolahan lumpur tinja yang dirancang dengan baik, dengan catatan yang tersedia untuk umum digunakan di tempat pengolahan di luar lokasi serta sistem drainase air hujan dan greywater yang mengalihkan air dari fasilitas ke drainase yang aman. Selain itu juga, Adanya strategi advokasi untuk mendorong perilaku stop buang air besar sembarangan,” kata Yulian.

Dalam Diskusi Pokja Wash Metro Timur kali ini, penyampaian indikator peningkatan akses sanitasi kategori Hijau atau layak di Fasyankes.

Kategori Hijau atau layak akses sanitasi di Fasyankes yaitu seluruh toilet memiliki pintu yang tidak rusak, dapat dibuka dan ditutup dengan baik, dapat dikunci dari dalam, kondisi toilet bersih, lantai tidak licin, tidak ada air tergenang di lantai, tidak bocor dan tidak mampet, Dua atau lebih toilet untuk pasien rawat jalan ditambah satu toilet per 20 pengguna / pasien rawat inap,” ujarnya.

Masih disampaikan Yulian, Kategori Hijau layak yaitu stasiun cuci tangan yang memadai dan semuanya berfungsi (adanya air, sabun, dan pembersih tangan berbasis alkohol) dalam jarak 5 meter dari toilet.

Semua toilet yang digunakan terpisah antara staff dan pasien diberikan penanda yang jelas serta toilet dipisahkan dengan jelas antara pria dan wanita atau jika netral gender maka memberikan privasi bagi pengguna wanita. selain itu, satu atau lebih toilet memiliki sarana MKM yaitu tempat sampah tertutup, cermin, gantungan, tersedia pembalut di area toilet atau dekat dengan toilet,” ungkapnya.

Lanjutnya, Satu atau lebih toilet fungsional memenuhi kebutuhan orang-orang dengan mobilitas terbatas (kloset duduk, lebar pintu 90cm, pintu terbuka ke luar, ada hand rail, tidak ada undakan sepanjang akses menuju toilet dan ada penanda toilet khusus disabilitas.

Diterangkan Yulian, Tersedia IPAL dan tangki septik kedap, untuk menampung, mengolah seluruh limbah cair.

Seluruh limbah cair dialirkan ke IPAL beserta dengan laporan operator mengkonfirmasi fasilitas toilet terhubung kesaluran pembuangan serta tidak ada laporan luapan di lahan fasilitas atau di komunitas lokal,” papar Yulian.

Perlunya pemahaman dan edukasi yang ditugaskan kepada anggota Pokja Wash Metro Timur dalam peningkatan akses sanitasi tersebut dilakukan secara rutin diwilayahnya.

Tangki septik sudah dikosongkan dalam 5 tahun terakhir atau sesuai dengan frekuensi pengosongan yang dijadwalkan oleh personel terlatih dengan peralatan pelindung yang sesuai dan dipindahkan ke luar lokasi untuk dirawat atau dibuang dengan aman dengan mengubur di lokasi,” terang Yulian.

Yulian juga menjelaskan standard kinerja pengolahan air limbah.

Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dirancang dengan baik dengan catatan yang tersedia untuk umum yang menunjukkan memenuhi standar kinerja pengolahan lumpur feses yang dirancang dengan baik dengan catatan tersedia untuk umum yang menunjukkan bahwa instalasi tersebut memenuhi standar kinerja pengolahan lokal / nasional, Ada sistem drainase, berfungsi dengan baik tidak terhalang dan berhasil mengalihkan air, selain itu terdapat media advokasi melalui poster, flyer atau media lainnya yang terlihat jelas dengan pesan STOP BABs, menjaga kebersihan dan CTPS setelah BAB di area toilet, ruang tunggu, ruang perawatan,” jelas Yulian.

Arti kata lain, ditambahkan Yulian, Fasilitas sanitasi yang lebih baik termasuk toilet siram kedalam saluran pembuangan terkelola atau tangki septik dan tangki rendam, jamban VIP (Ventilated improved pit), jamban dengan toilet slab dan kompos.

Ia juga menyampaikan, Seharusnya fasilitas akses sanitasi seperti toilet terletak di area yang tidak terlalu rawan banjir, erosi dan lainnya, Diinspeksi secara teratur apakah ada kerusakan, Dibersihkan lebih teratur Kamar kecil atau toilet tertutup, Kotoran diolah dengan aman di lokasi misalnya melalui tangki septik atau dibuang ke sistem saluran pembuangan yang berfungsi, diangkut dengan aman ke luar lokasi ke area pengolahan terpusat.

Toilet dengan lubang terbuka harus ditempatkan setidaknya 30m dari sumber air dan minimal 1,5m di atas permukaan air. Agar dianggap dapat digunakan, toilet / kakus harus memiliki pintu yang tidak terkunci saat tidak digunakan atau yang kuncinya tersedia kapan saja dan dapat dikunci dari dalam selama digunakan, tidak boleh ada lubang besar di struktur, lubang atau jamban tidak boleh tersumbat, air harus tersedia untuk toilet siram dan tidak boleh ada retakan, atau kebocoran pada struktur toilet Ini harus berada di dalam halaman fasilitas dan harus bersih seperti yang dicatat dengan tidak adanya limbah, kotoran dan kotoran yang terlihat serta serangga,” pungkas Yulian mengakhiri paparan dalam diskusi Wash in HCF fasilitas akses sanitasi Pokja Wash Metro Timur.

Time7newss.com (Enda).